
Akhir-akhir ini, acara pertelevisian kita diwarnai oleh ajang pemilihan di berbagai bidang. Ajang pemilihan ini ditujukan kepada masyarakat yang mempunyai bakat dan minat sesuai dengan kriteria pemilihan. Akhirnya dari sekian penilaian yang lama, ditentukan siapa yang menjadi pemenangnya. Si-pemenang inilah yang nantinya akan menjadi terkenal di masyarakat, sebagai idola baru atau selebriti baru. Jika ini terjadi, maka orang tersebut dielu-elukan masyarakat layaknya pahlawan.
Permasalahannya adalah "pahlawan" hasil pemilihan stasiun televisi dengan pahlawan bangsa di perlombaan internasional mendapatkan penghargaan yang jauh berbeda. Pahlawan bangsa justru kurang mendapatkan apresiasi dari masyarakat kita, padahal mereka mengukir prestasi Indonesia. Sedangkan "pahlawan" stasiun televisi lebih sering digembor-gemborkan oleh masyarakat karena penampilan mereka.
Para Insiyur muda yang telah belajar di luar negeri dan mendapat predikat sebagai lulusan terbaikpun tidak sedikit. Mereka terbukti mampu menyamakan potensi pendidikan kita dengan pendidikan di luar negeri. Namun sayangnya, lulusan berprestasi ini enggan kembali ke Indonesia karena kurangnya penghargaan atau penghormatan dari masyarakat maupun dari pemerintah. Beberapa dari mereka beralasan bahwa sulitnya mengembangkan potensi pendidikan yang telah mereka pelajari di negara kita, baik dari segi keuangan maupun sumberdaya alam. Contohnya, pemerintah kita sulit sekali memberikan dana bagi para lulusan ini untuk penelitian, kalaupun bisa, pasti akan dipersulit oleh para jajaran petinggi pemerintahan, sedangkan di luar negeri, Amerika misalnya, para lulusan insiyur, mendapatkan peluang dan dana serta dukungan dari pemerintah untuk proyek penelitian. Of course, ini berakibat buruk bagi negara kita, karena Indonesia kekurangan SDM yang berkualitas, rasa kebangsaan pada diri kita pun juga akan berkurang.
So...Ayo maknai 63 Tahun Kemerdekaan kita!!!